Senin, 30 November 2009


Harry Potter merupakan salah satu seri novel fantasi karya J. K. Rowling dari Inggris mengenai seorang anak laki-laki bernama Harry Potter. Sejak rilis pertama novel ini, Harry Potter dan Batu Bertuah pada tahun 1997 di Inggris, buku ini telah mendapatkan ketenaran dan kesuksesan secara komersial di seluruh dunia, diangkat menjadi film, video game, dan beragam merchandise.
Latar belakang kisah ini kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orang tua Harry.
Kesemua tujuh buku yang direncanakan Rowling dalam seri novel ini telah diterbitkan. Buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran versi asli bahasa Inggris diterbitkan pada 16 Juli 2005, sementara buku ketujuh, Harry Potter dan Relikui Kematian diluncurkan di seluruh dunia pada 21 Juli 2007 (versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2008). Enam buku pertama dalam seri novel ini secara keseluruhan telah terjual lebih dari 325 juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 63 bahasa.[1][2]
Atas kesuksesan novel-novelnya ini, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan.[3] Versi-versi asli dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh penerbit Bloomsbury di Inggris Raya, Scholastic Press di Amerika Serikat, Allen & Unwin di Australia, dan Raincoast Books di Kanada. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Lima buku pertama telah diangkat menjadi film layar lebar oleh Warner Bros. dan mendulang kesuksesan besar. Film kelima, Harry Potter and the Order of the Phoenix, mulai diambil gambarnya pada Februari 2006, dan dirilis pada 11 Juli 2007 di Amerika Serikat. Film keenam, Harry Potter and Half Blood Prince, dirilis pada 15 Juli 2009.[4]

Senin, 23 November 2009

UNGARAN-HUMAS : Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Semarang bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Pemali Jratun Departemen Kehutanan RI mempelopori gerakan penghijauan sekolah. Pelaksanaan gerakan ditandai dengan penanaman bibit tanaman secara simbolis oleh Wakil Bupati Hj Siti Ambar Fathonah di halaman belakang SMP Negeri 1 Ungaran, Kamis (3/5) siang.Ketua DP Dr Ir Suminto MSc mengatakan gerakan penghijauan sekolah yang telah digagas lama ini merupakan bagian dari pembelajaran siswa peserta didik. Kepedulian akan kelestarian alam dan mencegah kerusakannya dianggap penting untuk diajarkan kepada siswa sejak dini. “Gerakan Penghijauan Sekolah dimulai di SMP Negeri 3 Ungaran yang menjadi awal kegiatan di Kabupaten Semarang bagian Utara,” jelas Suminto.
Dijelaskan, gerakan ini juga akan dilaksanakan di sekolah menengah di Getasan, Bawen, Ambarawa dan Jambu yang termasuk wilayah Kabupaten Semarang Bagian Selatan. Diharapkan, gerakan ini akan terus berkembang dan mendapat sambutan positip dari masyarakat. Suminto menegaskan lewat gerakan ini para siswa dapat belajar mengelola lingkungan terutama diseputaran sekolah. Bila hal itu berkembang baik, penyerapan air oleh tanah karena adanya tanaman pengikat akan lebih baik. Pada akhirnya, tidak hanya para siswa, masyarakat luas juga akan menikmati hasilnya.

Senin, 16 November 2009



Story
Disebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale, Jarot, Lukman, Sadat, dan Jago. Ale adalah sosok yang paling menonjol diantara mereka. Jiwa pemimpinnya sangat kentara sekali. Sementara Jarot adalah sosok yang paling tidak banyak omong dan tertutup.
Suatu peristiwa dalam sebuah pertandingan sepak bola yang berakhir dengan keributan. Pada saat itu Ale tampak terdesak karena lawannya menggunakan pisau. Mereka semua berusaha membantu Ale. Sampai akhirnya Jarotlah yang berhasil melumpuhkan lawan dan tanpa diduganya pisau itu tertancap ditubuh lawan, rubuh bersimbahkan darah, dan mati. Seketika semua diam dan kemudian kabur meninggalkan Jarot seorang diri yang berdiri terpana tidak percaya.
Persahabatan yang sudah mereka jalin eratpun teruji. Jarot harus mengalami pengalaman pahit di penjara seorang diri. Tidak ada seorang sahabatpun yang memperdulikannya.Perasaan sakit hati dan terkhianati mengubah Jarot menjadi lelaki yang keras. Keputusannya setelah keluar dari penjara untuk bergabung di kelompok Naga Hitam membuatnya jadi berseberangan dengan kelompok Ale. Karena kelompok Naga Hitam adalah musuh besar kelompok Ale.Intrik demi intrik pun semakin rumit. Terlebih lagi ketika Jarot menjalin cinta lamanya kembali secara diam-diam dengan Aisya, adik Ale. Keputusan Jarot ini dianggap membahayakan bagi kedua kelompok yang berseteru.

Senin, 09 November 2009

Senin, 9/11/2009 16:50 WIB
BANDUNG, KOMPAS.com - Tingkat kualitas Timnas Indonsia U-19 benar-benar terlihat saat menghadapi Jepang pada kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Si Jalak Harupat, Senin (9/11). Indonesia seperti linglung, tak tahu bagaimana memainkan bola. Sampai 70 menit pertama, rata-rata setiap 10 menit Indonesia kemasukan satu gol dan akhirnya kalah 0-7.Indonesia hanya bisa menendang dan berlari, tanpa visi dan strategi yang meyakinkan. Bahkan, kemampuan dasar seperti mengumpan, mengontrol, dan bergerak tanpa bola pun masih parah. Akibatnya, Indonesia menjadi bulan-bulanan Jepang.Kekalahan telak itu membuat Indonesia akan semakin sulit lolos ke babak berikutnya. Mereka harus menang lawan Hongkong, Taiwan, dan Australia. Yang terakhir itu bakal menjadi lawan berat Indonesia.Pertandingan yang dipimpin wasit Kodhim Oda Lazeem dari Iran itu berlangsung dalam tempo sedang dan kurang berimbang. Jepang unggul 3-0 di babak pertama, lewat gol Takagi Toshoyuki menit ke-3, Nagai Ryo menit ke-10, dan Kato Masaru menit ke-40. Memasuki babak kedua, Indonesia semakin kehilangan akal. Mereka hanya bisa berlari dan menendang bola, kadang terkesan asal-asalan. Sehingga, tim yang dilatih di Uruguay ini semakin tertekan.
Jepang pun dengan mudah menambah empat gol, lewat dua gol tambahan Toshiyuki pada menit ke-52 dan 56, satu gol tambahan Ryo di menit ke-70, dan gol pemain belakang Takahashi Shohei di menit ke-54. Praktis, dalam 70 menit pertama Indonesia kemasukan 7 gol. Artinya, rata-rata setiap 10 menit kemasukan satu gol.
Beruntung, Jepang tak terlalu ngotot pada 20 menit terakhir. Selain itu, Indonesia yang kehilangan akal dan mulai lelah, hanya berkutat di pertahanannya sendiri. Sehingga, Indonesia lolos dari kemasukan gol lagi. Jepang pun puas dengan kemenangan 7-0.SusunanPemain
Indonesia: Yuwanto Stya Beny (kiper), Yericho Christiantoko, Ferry Firmansyah, Mokhamad Syaifudin, Abdul Rahman Lestaluhu, Yandi Sofyan, Alan Martha, Mochamad Zaenal Haq, Rizki Ahmad Sanjaya, Vava Mario Zagalo, Alfin Ismail TuasalamoniPelatih: Cesar Payovich.Jepang: Nakamura Hayato (kiper), Tanaka Masaki, Takahasi Shohei, Kikuci Daisuki, Musaka Mitsunari, Oghihara Takahiro, Kato Masaru, Furuta Hiroyuki, Takagi Toshiyoki, Nagai Ryo, Iwata ShuheiPelatih: Nuno Keiichiro. (*)

Senin, 9 November 2009 14:16 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Jaksa Agung Hendarman Supandji mengatakan, Kejaksaan memiliki bukti bahwa Ary Muladi pernah mendatangi Kantor KPK dan menelepon pejabat KPK sebanyak 64 kali.
Hal tersebut disampaikan oleh Jaksa Agung dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR, Senin (9/11). Meski demikian, Humas KPK Johan Budi membantah ada data kedatangan Ary Muladi sebanyak enam kali tersebut.
Menurutnya, pengamanan di KPK sangat ketat sehingga tidak semua orang bisa masuk dengan mudah dan menemui pimpinan.
"Saya tidak tahu soal kedatangan Ary Muladi ke sini. Namun, saya beri gambaran saja, setiap tamu memang bisa datang ke sini, tapi di sini tiap lantai kan ada satpamnya. Tidak semua orang bisa masuk, apalagi sampai menemui pimpinan," kata Johan, Senin (9/11) di Gedung KPK.
Meski demikian, Johan tak menampik apabila setiap kedatangan tamu akan tercatat pada buku tamu. "Saya kan enggak bisa ngecek semua buku tamu. Apalagi, itu kan sudah lama juga," katanya.
Johan sendiri juga mempertanyakan perbedaan keterangan yang diberikan oleh Jaksa Agung dan pernyataan dari Ary Muladi.
"Kalau menurut si Ary, dia ke sini mau nganter surat. Itu kan omongannya dia. Aku juga enggak tahu. Ary yang dituduh enam kali, Ary ngaku sekali, ya kami mau omong apa," tandasnya.
.indosat {font: bold italic 12px Tahoma;}